Blog Widarto Rachbini

P-Value vs Level of Significance: Mana yang Lebih Penting?

Bayangkan seseorang mengaku bisa menebak hasil lemparan koin. Sekali ditebak benar, itu wajar—peluangnya memang 50:50. Dua kali benar berturut-turut, peluangnya tinggal 25%. Masih mungkin kebetulan. Tetapi kalau ia bisa menebak 100 kali berturut-turut, peluang itu terjadi hanya karena keberuntungan hampir nol.

Nah, peluang “benar karena kebetulan” inilah yang disebut p-value. Semakin kecil p-value, semakin sulit kita percaya bahwa hasilnya muncul hanya karena keberuntungan semata.

Lalu kapan kita boleh yakin bahwa penebak koin itu memang punya kemampuan khusus? Di sinilah peran level of significance. Misalnya, kita sepakat kalau peluangnya lebih kecil dari 5%, maka kita percaya. Angka lima persen inilah batas keyakinan.

Sayangnya, banyak orang salah paham. P-value kecil bukan berarti hasil penelitian pasti benar, melainkan hanya berarti “jarang terjadi jika semua murni kebetulan.” Begitu juga hasil “signifikan” tidak selalu penting. Misalnya, sebuah obat menurunkan tekanan darah hanya 1 mmHg dengan p-value sangat kecil. Secara statistik memang signifikan, tapi secara kesehatan dampaknya nyaris tak berarti.

Jadi, p-value dan level of significance saling melengkapi. P-value menunjukkan seberapa jarang suatu hasil bisa muncul karena kebetulan, sedangkan level of significance adalah garis batas kapan kita mulai yakin bahwa hasil itu memang layak dipercaya.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *